Masih. Pandangannya terlempar diantara sawah-sawah dari atas bukit. Kamera dia letakkan di pangkuannya. Entah berapa lama juga dia berhenti dari tempatnya memandang sosok yang sekelebat hanya punggungnya saja berani dia amati.
2008
“Kamu membenci saya..? Maaf selama ini…” tangan sosok pria itu mengantup
Pandangan masing-masing diantara keduanya hanya jatuh. menunduk. Diam menjeda…
“Ya…” perempuan itu meninggalkan sosok itu sendirian, tak diijinkan pria itu membaca pandangannya yang hampir dijatuhi air dari hati.
Dibaginya diujung jembatan utara, sambil beradu pandang dengan merapi. Degubnya lari belum menentu. Mengisak.
Ingin dia lempar ingatan tentang sosok itu, ditenggelamkan di dasar sungai ini. Dan dibawa pergi saja sampai jauh, jangan kembali.
2011
Sosok itu masih disini, masih disimpannya. Tatapannya masih menjadi peraduan yang paling teduh. Tak jadi dilempar kenangannya, dia punguti. Dia simpan disebuah kotak kecil. Sedikit dia berharap ada yang mencurinya lalu dibawa pergi jauh tanpa sepengetahuan perempuan itu, dibuang, dibakar, atau lebih baik dimusnahkan.
Biar aku menepi
Bukan lelah menanti
Namun apalah artinya
Cinta pada bayangan –kahitna-
Malam adalah suasana yang paling membiarkan saya bergerak dengan hati ditemani rintik-rintik yang masih menghujani genting-genting, sepertinya hujan juga ingin dimengerti. Mereka layaknya kawanan prajurit dingin, jatuh dari tempat sangat tinggi. Saat tempat tak membiarkannya ada, maka dia akan membanjiri, saat tempat keras tipis dia akan mengeras dan melengking, saat tempat terlalu kokoh dia hanya mengetuk-ngetuk bak merajuk. Adakalanya rajukannya hanya sebuah suara tak terdengarkan. Seringnya ditinggal ditidur, atau dinikmati dibalik kaca bangunan-bangunan tinggi kedap suara.
Seperti itukah aku?
Saat aku hanya bisa bersuara seadanya tanpa kau mengerti, kau hanya melihat aku dibalik sisi jendela. Apakah kau menikmati derai-derai yang jauh itu begitu saja…tanpa kau dengar suaranya. Cobalah bertanya, gambarkan lengkungan senyum di embun-embun jendela kaca tanda kau tau dia ada…
“Dari mana kamu tercipta? Dari samudra bagian mana, atau dari uap air hutan belantara…?”
Tersengal-sengal kejar-mengejar udara. Masih memburu degub satu-satu lari seribu. Menyelip bingkai aroma pisah dan kenang. Air mukamu sendu. Redam kau coba memadu, satu-satu, jatuh. aku tersesat membelantara dalam rerimbun perdu, terburu ingin tahu. Kasihku yang tak ingin menarik aku. Masih diam di situ. Sesungguhnya aku rindu matamu sayu.
"Tak ingin kau curi diamku? Aku rindu berbicara padamu."
Bergerak seadanya meminta belas asih pengerti. Derai-derai juga jatuh menemani tegun-tegun malam perempuan sendu
“Bercerita kemari padaku. Sungguh hatiku meminta kamu”
Tanah merah, kering berdebu, sebelah kanan-kiri hanya lubang-lubang raksasa berukuran persegi , sisa-sisa galian tanah untuk pembuatan bendungan irigasi. Irigasi puluhan kilo meter, dengan tinggi 3-4 meter. Pelan-pelan bayangan tertutup awan gelap diujung ladang lubang.
Saya berlari, awan itu seiring mengikuti, dan pelan-pelan membasahi jalanan dibelakang saya. Sampai saya mengayuh kencang sepda saya digubuk pembuatan bata merah, hujan benar-benar tumpah. Saya duduk dijerami hasil tumpukan pak tani.
Mendengarkan pembicaraan yang tidak saya mengerti dari beberapa orang yang juga berteduh diujung saya. Kecemasan menghimpun ketika Kilat-kilat terlihat jelas dan sejauh mata memandang hanya dataran lubang-lubang raksasa disekitar gubuk bata merah. Disusul petir saling bergelegar. Cemas yang tak sanggup saya gambarkan, ketika panas dingin ketakutan biasa disusul dengan keringat, sekarang hanya menyungsap menahan dingin angin yang membawa butir-butir air lembut, namun kejam.
Langit masih ditumpuki awan-awan gelap, aku diam menontoni air hujan ditepian kayu penopang gubuk bata. Air yang datang ditemani geledek-geledek besar , seperti terusir dari peraduan, ditumpahkan, untuk mencari tempat yang lain, dengan menjadi pejalan jauh. Menetes berkejaran disela-sela atap, jatuh di kayu-kayu,langsung memeluk tanah dan meresapinya, namun ketika tak tempat tak tersedia, dia mengalir. Mengetuk dinding-dinding batu dan kerikil, melewatinya, sampai menemukan ….tempat terbaiknya.
tik..tik..tik..bunyi hujan diatas genting,
Airnya turun tidak terkira….
Ranting dan daun basah semua…
Nyanyian itu memecah, mataku mencari suara kecil itu. Geledek pergi pelan-pelan bersama awan kelam. Hujan turun mulai perlahan, pelan…dia suara kecil itu sudah berlari, menari, tak peduli dingin, dan air hujan lewat tanpa dirasanya.
CRASS!!!
Dia menjerit. Cahaya mirip akar tegak berdiri diatas tanah.
Saya menutup mata. Kilat itu masih bersisa. Untuk menikmati hujan kadang memang harus beresiko.
Saya melihat keatas, dibalik sisa-sisa pohon entah berapa kilometer dari tempat saya memandang melewati lubang-lubang raksasa, yang diambil tanahnya. Mendung bergeser. Pelan.
Udara tiba-tiba menusuk, dengan pernyataan yang muncul bagai lompatan kilat, menyambarku.
“Dunia ini, tempat ini, bukan tempatku selamanya…”
Saya tidak bisa mengira-ngira tempat bagaimana yang akan saya tempati nanti, dan seluruh orang-orang didunia ini ketika satu persatu menghilang. Tenang. Bagaimanapun akan terlihat tenang. Karena tak bergerak.
Disebuah hari, rintik yang mulai deras, berlari kecil menutup kepala dengan kedua tangan. Mencari tempat yang aman agar rintik tak semakin menyeruak basah. Tiba diteras toko, tanganku masih mengelap bahu, merekatkan kedua tangan sambil menarik nafas dalam-dalam, sedikit menghangatkan.
“Orang-orang berjalan dengan kanopi, seandainya saja aku punya, aku bisa menikmati hujan yang terasa dekat tanpa basah…ahh tapi aku tidak bisa merekatkan tanganku seperti ini.“
Tampak dari sebelah berjejalan orang bergerombol menghindar dari rintik yang mulai deras. Celah apa yang akhirnya aku bisa melihatmu disisi hujan sejajarku…
Disini….
Disebuah hari aku menemukan kamu…
#Kamu
Menoleh, terdiam dengan, arah mata sayu. Perlahan mengembalikan tatapan dalam tirai birai hujan sore itu.
#Aku
Tatapannya dingin melebihi cuaca ini, bahkan tanganku yang merekat hangat dibahu tiba-tiba dingin.
Aku mencintai hujan, namun yang tidak terlalu dingin seperti ini, tapi bagaimana jika dia yang kucari?
Benar dia sesorang yang kucari, lelaki disebelah tirai hujan, lelaki yang masih diam walau dia sudah mengenal aku, entah apa, karena apa dia hanya menatapku tanpa menyapaku, selalu
Kenangan yang masih kurekatkan pada rinai-rinai hujan, kenangan yang masih kubawa hingga kemana awan mendung mulai berarak membawa semua rinai jauh dari tepi menuju musim yang panas.